Sempat membaca surat Al-Araf ayat 24 tentang pengusiran Adam dan Hawa dari surga dijelaskan “Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan.“. Kata bermusuhan atau aduwwun langsung menarik hati gue untuk menelaahnya.
Pada buku yang pernah gue baca, sangat penting untuk mengenal diri sendiri agar tau tugas, tujuan, dan visi misi kita di dunia ini. Kata bermusuhan pada ayat itu ga mungkin ada kalau itu bukan hal yang penting. Apa memang kita manusia sebagai anak cucu Adam ditakdirkan untuk “bermusuhan”?
Kata bermusuhan
Dalam kamus al-Munawwir, kata kerja ‘ada mempunyai banyak makna, diantaranya adalah lari, membelokkan/memalingkan, melampaui, dan menganiaya/menzalimi. Adapun ‘aduww dengan jamak A’da’a disinonimkan dengan kata “al-Kusum” yang diartikan sebagai musuh atau lawan.
Bermusuhan tidak selalu tentang saling membenci, peperangan, dan saling mengakhiri. Ada juga yang disini berarti lawan; hitam versus putih, panas versus dingin, utara versus selatan, muatan positif versus negatif, dan lain-lain. Pada kehidupan nyata konflik kepentingan juga berarti berlawanan. Dimana ada kepentingan lain yang perlu diakomodasi namun nyatanya tidak semua kepentingan selalu dapat diakomodasi.
Dalam kehidupan nyata kita selalu melihat selalu ada pertentangan; di keluarga, di tempat kerja, di kehidupan bernegara ataupun ditempat-tempat lainnya. Pertentangan selalu akan muncul tidak ayal membuat kita berkonflik. Dengan keterbatasan waktu dan ruang di dunia ini, semua hal tampak tidak selalu dapat diakomodasi dengan baik.
Apakah kita dihukum Tuhan?
Tafsir Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah pada ayat 24 surat Al-Araf:
قَالَ اهْبِطُوا۟ (Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian)
Firman ini ditujukan bagi Adam, Hawa, dan keturunannya, serta bagi Iblis.
بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ (sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain)
Allah menjadikan permusuhan bagian dari hukuman dari-Nya.
وَلَكُمْ فِى الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ (Dan kamu mempunyai tempat kediaman)
Yakni tempat tinggal.
وَمَتٰعٌ (dan kesenangan)
Yakni dan bagi kalian kesenangan untuk kalian nikmati dan manfaatkan di dunia berupa makanan, minuman, dan lainnya.
إِلَىٰ حِينٍ (sampai waktu yang telah ditentukan)
Yakni sampai waktu kematian kalian. Atau sampai waktu terjadinya hari kiamat.
Pada tafsir diatas dapat kita ambil bahwa di dunia ini kita dihukum untuk saling bermusuhan. Lalu pertanyaan berikutnya di benak gue “Bagaimana mengakhiri hukuman ini?“.
Manusia adalah makluk berkehendak bebas
Berbeda dengan malaikat, manusia memiliki kebebasan untuk merespon sesuatu hal. Respon adalah bagaimana kita beraksi (action) atas suatu rangsangan. Mengakhiri hukuman Tuhan akan permusuhan adalah bagaimana kita memandang dan bersikap atas permusuhan itu sendiri. Kita dapat merespon permusuhan dengan perdamaian. Perdamaian dapat diwujudkan jika kita memiliki sifat ikhlas, pemaaf, dan mampu bertoleransi pada konflik kepentingan.
Seperti yang gue tulis diatas, hidup di dunia ini terbatas pasti akan selalu ada konflik kepentingan (masalah). Konflik sendiri muncul akibat dari harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Harapan kita pasti banyak dan didunia ini tidak semua harapan bisa dijadikan kenyataan. Kita perlu tata kelola harapan agar selalu dalam kedamaian.
Memaafkan juga penting, dari banyaknya waktu kita habiskan di dunia pasti banyak juga hal-hal yang menyakiti kita. Ternyata ketika kita memaafkan, efeknya bukan hanya untuk orang yang menyakiti kita aja. Tetapi juga untuk kedamaian diri kita sendiri agar mampu menjalani masa depan yang lebih baik lagi.
Dan yang paling sulit dan dibilang ilmu yang paling tinggi adalah ikhlas. Ikhlas menjalani ketetapan Tuhan, qada dan qadar, dan apa yang tertulis pada lauhul mahfudz terhadap konflik yang sudah terjadi pada kehidupan kita. Jika kita sudah menyelesaikan ilmu ini niscaya kehidupan kita akan damai.
Hidup di dunia adalah benar-benar sebuah cobaan, tidak semua orang mampu merespon permusuhan dengan perdamaian. Hanya hati yang besar yang mampu mengedepankan perdamaian daripada permusuhan. Setelah kita memperoleh kedamaian di hati kita, gue yakin kita sudah melewati dan lulus hukuman Tuhan di dunia ini. Semoga kita termasuk orang yang mampu dan bukan orang yang mengedepankan permusuhan.
*Catatan, gue bukan ahli tafsir atau pun ahli agama, hanya manusia yang lagi coba untuk belajar
Referensi :
Tafsir Web – https://tafsirweb.com/2478-surat-al-araf-ayat-24.html diakses 14 Januari 2024
Repository UIN SUSKA – https://repository.uin-suska.ac.id/3929/4/bab%20%20III.pdf diakses 14 Januari 2024
1 comment