Pocong Mumun

142 0
pocong mumun

Ketika Nama Itu Terlalu Sakral untuk Diucapkan

Malam itu warung kopi di pinggir jalan sepi. Lampu minyak berkedip pelan, ditiup angin yang turun dari arah kebun karet. Maimunah — yang akrab dipanggil Mumun, atau Eneng oleh orang tuanya — duduk sendiri di balik meja kayu. Biasanya keluarganya ada di sana menemaninya. Malam itu tidak. Mereka pergi ke luar kota, dan Mumun memilih tetap buka.

Tidak ada yang salah dengan itu. Dia perempuan cantik, dikenal baik, disayang warga sekitar. Tidak ada yang perlu ditakuti.

Sampai seseorang datang.

Pemuda Itu Datang dengan Batu di Tangan

Wajahnya dikenal Mumun. Dulu dia pernah menyatakan perasaan — dan Mumun menolaknya dengan baik-baik. Tapi rupanya luka itu tidak sembuh. Rupanya dia menyimpan sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kekecewaan.

Begitu warung benar-benar sepi, dia bergerak. Dari belakang. Dengan batu di tangan kanannya.

Mumun tidak sempat berteriak.

Ia pingsan sebelum sempat memahami apa yang terjadi. Lalu tubuhnya digotong — menjauh dari jalan, menjauh dari cahaya, masuk ke dalam hutan. Di bawah pohon pinus yang besar, di tempat yang tidak ada orang, malam itu terjadi sesuatu yang tidak bisa dibalik. Tidak bisa dilupakan. Dan tidak bisa dimaafkan begitu saja oleh alam.

Pemuda itu pergi. Kabur ke luar kota. Tidak ada yang mempertanggungjawabkan.

Yang Tersisa Hanya Sunyi dan Pohon Pinus

Mumun pulang malam itu. Tapi sesuatu dalam dirinya tidak ikut pulang.

Hari-hari setelahnya berjalan seperti kabut. Dia merasa kotor. Hancur. Sendirian di dalam keramaian. Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang dia pikul — dan pada akhirnya, dia memutuskan untuk tidak memikul apa-apa lagi.

Dia kembali ke pohon pinus itu.

Dan di sanalah, di tempat yang sama, segalanya berakhir untuk Maimunah.

Tapi Kebun Karet Itu Tidak Pernah Benar-Benar Sepi

Warga sekitar Cibubur — terutama yang tinggal di dekat Bumi Perkemahan Jambore — mulai berbisik-bisik. Ada yang bilang melihat perempuan cantik berdiri di antara pohon karet di malam hari. Tidak mengganggu. Tidak berteriak. Hanya berdiri, menatap.

Tapi kalau ada laki-laki yang datang dengan pikiran kotor — ceritanya lain.

Mereka pulang dengan muka pucat. Mereka pulang dengan cerita yang tidak masuk akal. Atau mereka tidak cerita sama sekali, karena malu mengakui apa yang mereka niatkan sebelumnya.

Dua Puluh Tahun Kemudian: Seorang Komedian yang Tahu Terlalu Banyak

Tahun 2002, seorang komedian bernama Mandra membuat sinetron horor untuk Indosiar. Judulnya Jadi Pocong. Ada karakter pocong perempuan di dalamnya — dan tanpa banyak penjelasan ke publik, Mandra memberinya nama Mumun.

Bukan nama sembarangan.

Mandra tahu. Dia tahu persis dari mana nama itu berasal, dan justru karena itu dia tidak berani menjadikannya judul utama. Cukup jadi nama karakter. Cukup jadi bayangan.

Sinetron itu meledak. Generasi 90-an tumbuh besar dengan takut sama Mumun — tanpa tahu bahwa ketakutan itu punya akar yang jauh lebih dalam dari sekadar cerita fiksi.

2022: Ketika Nama Itu Akhirnya Diucapkan Keras-keras

Dua puluh tahun berlalu. Rumah produksi Dee Company memutuskan mengangkat Jadi Pocong ke layar lebar — dan kali ini, mereka ingin judulnya: MUMUN.

Mandra hampir tidak setuju.

“Saya lemes. Moga-moga nggak jadi apa-apa,” katanya dalam wawancara sebelum film tayang.

Dia akhirnya mengizinkan, tapi dengan syarat: seluruh kru wajib doa bersama sebelum syuting. Wajib minta izin. Wajib tidak bercanda dengan nama itu. Aktris utama Acha Septriasa mengingat pesan Mandra dengan jelas:

“Jangan pernah ngejekin nama Mumun karena Mumun itu memang ada dulu dan jadi legenda. Nama Mumun itu harus dijaga.”

Dan memang — selama era sinetron dulu pun sudah ada kejadian. Suatu malam Jumat saat syuting, tukang genset mengontrol mesin dan melihat sosok pocong duduk diam di atas. Mengira itu pemain yang sudah pakai kostum, dia berteriak santai: “eh, turun — syuting mau mulai!”

Tidak ada yang turun.

Begitu dia sadar itu bukan pemain, dia tidak lagi santai.

Warisan yang Tidak Akan Hilang

Sampai hari ini, tidak ada catatan resmi tentang Maimunah. Tidak ada makam dengan nama lengkap. Tidak ada keluarga yang tampil ke publik. Yang ada hanya cerita — yang hidup di mulut warga Cibubur sejak puluhan tahun lalu, yang kemudian tanpa sengaja menemukan jalan masuk ke layar televisi jutaan rumah di Indonesia.

Mumun adalah bukti bahwa beberapa nama memang punya berat tersendiri. Bahwa ada kisah yang terlalu nyata untuk sepenuhnya dijadikan hiburan — dan terlalu kuat untuk benar-benar dilupakan.

Di suatu sudut kebun karet dekat Jambore, mungkin masih ada yang berdiri di antara pohon-pohon itu malam ini.

Cantik. Diam. Menunggu.

 

Referensi:

  1. Kompas.com — https://www.kompas.com/hype/read/2022/08/31/143427166/apakah-film-mumun-berangkat-dari-kisah-nyata
  2. KapanLagi.com — https://www.kapanlagi.com/showbiz/film/indonesia/terkuak-hantu-pocong-mumun-rupanya-berdasar-kisah-nyata-mandra-sempat-stres-saat-diadaptasi-ke-film-6f637d.html
  3. Suara.com — https://soreang.suara.com/read/2022/09/13/182527/pocong-mumun-itu-nyata-mandra-ceritakan-kisah-mistis-saat-syuting
  4. Okezone Celebrity — https://celebrity.okezone.com/read/2023/10/26/33/2908705/apakah-kisah-pocong-mumun-nyata
  5. DIGO.ID — https://digo.id/detail-news/kisah-pocong-mumun-dari-sinetron-hingga-kejadian-nyata
  6. Bondowoso Network — https://bondowoso.jatimnetwork.com/hiburan/pr-1824393733/asal-usul-kisah-pocong-mumun-yang-sempat-viral-pada-tahun-2002-ternyata-asli-ada-dan-nyata

Tinggalkan Balasan