Pengantin Ali

143 0
Pengantin Ali

Ketika Sungai Mengambil yang Bukan Haknya

Ciracas, 1940-an. Sebelum jalan-jalan di sana punya nama, sebelum gang-gang sempit itu ramai oleh warung dan motor, kawasan ini masih banyak hijaunya. Dan di tengahnya, mengalir Kali Cipinang — sungai yang warga tua setempat tidak pernah benar-benar anggap enteng.

Mereka tahu sejarahnya. Ada sesuatu di sana.

Hari yang Paling Bahagia

Ali adalah pemuda kampung. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya — tapi hari itu dia bukan pemuda biasa. Hari itu dia adalah penganten. Dengan baju terbaik yang pernah dia punya, Ali duduk di atas tandu bersama istrinya, Emah, seorang perempuan yang kata warga sekitar wajahnya membuat orang sungkan menatap terlalu lama.

Arak-arakan dimulai. Gamelan berbunyi. Anak-anak berlarian di pinggir jalan mengiringi rombongan. Orang-orang bertepuk tangan.

Ini adalah tradisi Betawi yang sudah berlangsung turun-temurun — sepasang penganten baru diarak keliling kampung di atas tandu, seperti raja dan ratu untuk sehari. Ali mungkin tidak pernah merasa seistimewa itu seumur hidupnya. Dan mungkin itulah yang jadi masalahnya.

Jembatan di Atas Kali Cipinang

Arak-arakan terus bergerak. Gamelan masih berbunyi. Langkah para pengusung tandu terasa ringan karena suasana yang meriah.

Sampai mereka tiba di jembatan.

Kali Cipinang di bawahnya sedang tidak bersahabat — hujan beberapa hari sebelumnya membuat airnya tinggi dan arusnya deras, cokelat keruh berputar-putar di bawah jembatan yang sempit itu. Tapi arak-arakan tidak berhenti. Tidak ada alasan untuk berhenti. Ini hanya jembatan biasa yang sudah ribuan kali dilewati warga.

Tapi jalan itu licin.

Tidak ada yang tahu persis bagaimana kejadiannya. Apakah salah satu pengusung terpeleset, apakah tandu oleng karena desakan orang, apakah ada angin yang tiba-tiba datang dari arah sungai — tidak ada yang bisa menjelaskan dengan tepat. Yang semua orang tahu adalah: dalam satu detik, Emah masih duduk di atas tandu. Dan di detik berikutnya, dia tidak ada.

Tubuhnya jatuh ke Kali Cipinang.

Arak-arakan berhenti. Gamelan berhenti. Semua orang berhenti — terpaku, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka.

Kecuali Ali.

Ali tidak berhenti. Ali langsung melompat.

Yang Tidak Pernah Kembali

Warga menunggu di tepi jembatan. Mereka memanggil nama Ali, memanggil nama Emah. Beberapa pemuda turun mencari di sepanjang tepi sungai. Tapi arus Kali Cipinang malam itu deras sekali, dan sungai itu dalam di bagian yang tepat berada di bawah jembatan.

Mereka menunggu sampai malam. Lalu sampai pagi.

Tidak ada yang muncul.

Tidak ada jenazah. Tidak ada tanda-tanda. Tidak ada apapun kecuali arus sungai yang terus mengalir seolah tidak terjadi apa-apa. Ali dan Emah — pasangan penganten yang beberapa jam lalu diarak seperti raja dan ratu — hilang ditelan Kali Cipinang tanpa meninggalkan jejak.

Dua Batu yang Tidak Ada Sebelumnya

Beberapa hari setelah kejadian, warga menemukan sesuatu yang aneh.

Di sekitar lokasi, tepatnya di area sekitar jembatan itu, muncul dua batu berukuran sekitar lima puluh sentimeter. Tidak besar, tidak kecil. Tapi tidak ada yang bisa menjelaskan dari mana asalnya. Tidak ada yang merasa menaruhnya di sana. Tidak ada yang pernah melihat batu itu sebelumnya.

Warga tua langsung tahu artinya.

Mereka percaya kedua batu itu adalah jelmaan Ali dan Emah — roh keduanya yang tidak sempat berpamitan, yang tidak sempat menikmati malam pertama mereka, yang menjelma jadi batu karena mungkin tidak rela pergi begitu saja dari dunia ini.

Salah satu batu itu kemudian dipindahkan dan disimpan di dalam Musala Al-Barokah di gang Pengantin Ali — diletakkan di samping tempat salat wanita, dijaga oleh penjaga musala bernama Rohayah yang saat diwawancarai Okezone pada 2014 mengaku tidak berani memindahkan atau mengabaikan batu itu.

Batu itu masih ada sampai sekarang.

Raja yang Cemburu

Tapi ada versi lain dari kisah ini — versi yang lebih tua, yang diceritakan oleh warga paling sepuh di Ciracas, yang mendengarnya dari orang tua mereka, yang mendengarnya dari orang tua mereka lagi.

Versi ini tidak bicara soal kecelakaan.

M. Yasin, seorang tokoh masyarakat Ciracas yang diwawancarai Okezone pada 2014, menceritakan apa yang kakeknya saksikan — kakeknya yang ada di sana, di arak-arakan itu, malam itu.

Menurut versi ini, Kali Cipinang bukan sungai biasa. Ada penunggunya. Sosok pria berpakaian raja, yang kata kakek Yasin pernah terlihat duduk bersila di atas batu di tengah sungai, dikelilingi oleh sosok-sosok yang berdiri diam di sekelilingnya seperti pengawal.

Dan malam itu, raja penunggu Kali Cipinang melihat Ali diarak seperti raja di atas tandunya.

Dia tidak suka.

Bukan karena Ali berbuat salah. Bukan karena Emah melanggar pantangan. Tapi karena ada yang tersaingi — karena di wilayah kekuasaannya, tidak boleh ada yang merasa seperti raja selain dirinya. Dan begitu arak-arakan melintas di atas jembatannya, dia mengambil apa yang menurut dia tidak seharusnya ada di sana.

Keduanya dikutuk. Dijadikan batu. Sebelum sempat pulang ke rumah, sebelum sempat melepas pakaian pengantin mereka.

Nama yang Jadi Jalan

Warga Ciracas tidak lupa.

Mereka memberi nama jalan itu — dan gang-gang di sekitarnya — dengan nama Pengantin Ali. Bukan sebagai perayaan, tapi sebagai pengingat. Bahwa di sini pernah ada sepasang penganten yang tidak sempat bahagia. Bahwa sungai di bawah jembatan itu pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Hari ini ada lebih dari sepuluh jalan di kawasan Ciracas yang menyandang nama Pengantin Ali dalam berbagai variasinya. Warga lokal menyebutnya cukup singkat: Nganten Ali.

Dan kepercayaan itu masih hidup sampai sekarang — pasangan yang sedang bertunangan atau akan menikah dilarang melintas di jalan ini. Bukan karena ada yang mewajibkan. Bukan karena ada sanksi. Tapi karena warga tua yang ingat kisah itu tidak mau ada yang bernasib sama dengan Ali dan Emah.

Mereka menyayangi orang-orang yang akan menikah. Dan cara mereka menyayanginya adalah dengan mengingatkan: jangan lewat sini.

Yang Tersisa

Tidak ada makam Ali. Tidak ada makam Emah. Yang ada hanya batu di dalam musala, nama di papan jalan, dan cerita yang sudah berumur delapan puluh tahun lebih — tapi masih diceritakan oleh nenek kepada cucunya, masih dijadikan peringatan oleh warga lama kepada pengantin baru.

Mungkin itulah bentuk lain dari abadi.

Bukan nama di batu nisan. Bukan foto di dinding. Tapi cerita yang terus diulang, di banyak mulut, di banyak malam — sampai nama seseorang menjadi nama jalan, dan jalan itu menjadi tempat di mana orang-orang lewat setiap hari tanpa tahu bahwa di bawah aspal itu pernah ada kisah cinta yang tidak sempat selesai.

Di suatu titik di Ciracas, di atas jembatan yang mungkin sudah diganti berkali-kali, Kali Cipinang masih mengalir.

Deras. Cokelat. Diam.

 

Sumber:

  1. Okezone News — https://news.okezone.com/read/2014/03/22/500/958996/momok-jalan-pengantin-ali-bagi-mempelai-1
  2. Kaskus — https://m.kaskus.co.id/thread/54e0cbb91a9975dc558b4568/ask-sejarah-jalan-pengantin-ali
  3. Kompasiana — https://www.kompasiana.com/widiyati68082/5fb019128ede48775b520c42/pengantin-ali-dan-calon-pengantin-alena
  4. YouTube — https://www.youtube.com/watch?v=pRWgZp_Qpwg
  5. TikTok @mujib.ansori — https://www.tiktok.com/@mujib.ansori/video/7482820116602834184
Gambar adalah ilustrasi yang di generate oleh AI

Tinggalkan Balasan