Landhuis Pondok Gede

172 0
Landhuis Pondok Gede

Kalau sekarang mendengar nama Pondok Gede, yang terbayang mungkin jalan raya yang ramai, kawasan permukiman, pusat perbelanjaan, atau aktivitas warga Jakarta dan Bekasi yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Namun, jauh sebelum semua itu ada, kawasan ini pernah memiliki sebuah bangunan besar yang begitu menonjol hingga namanya dipercaya menjadi asal-usul nama Pondok Gede.

Bangunan tersebut dikenal sebagai Landhuis Pondok Gede.

Lokasinya kurang lebih berada di tempat yang sekarang menjadi Plaza Pondok Gede. Rumah besar itu sudah lama tidak ada. Pada 1992, bangunan tersebut dibongkar dan lahannya kemudian dikembangkan menjadi pusat pertokoan modern.

Dari “Pondok yang Gede” Menjadi Pondok Gede

Menurut berbagai sumber sejarah yang dikutip oleh media, Landhuis Pondok Gede dibangun pada sekitar 1775 dan dikaitkan dengan seorang pendeta Belanda bernama Johannes Hooyman.

Bangunannya memiliki karakter yang cukup menarik. Bagian depan bertingkat dua menggunakan gaya arsitektur Belanda, sementara bagian lainnya memiliki ruang terbuka dan serambi pada beberapa sisi yang memperlihatkan pengaruh arsitektur lokal Jawa. Bentuk semacam ini merupakan salah satu karakter arsitektur rumah besar atau landhuis di Hindia Belanda.

Ukurannya yang besar kemudian menjadi bagian penting dari cerita asal-usul namanya.

Masyarakat sekitar disebut menyebutnya sebagai “pondok yang gede”—rumah atau tempat tinggal yang besar. Penyebutan tersebut lama-kelamaan melekat menjadi “Pondok Gede”.

Dengan demikian, nama yang sekarang digunakan oleh sebuah kecamatan, jalan, kawasan permukiman, dan berbagai fasilitas di sekitarnya ternyata memiliki hubungan dengan sebuah bangunan yang sudah lenyap.

Leendert Miero dan Perubahan Sebuah Landhuis

Sejarah Landhuis Pondok Gede kemudian berkaitan dengan seorang tokoh bernama Leendert Miero, yang juga dikenal dengan nama Juda Leo Ezekiel.

Miero datang ke Batavia pada abad ke-18 dalam kondisi yang jauh dari kehidupan seorang saudagar kaya. Sejumlah sumber menyebut ia datang pada 1775 dan pada masa awal kehidupannya di Batavia menyembunyikan identitas Yahudinya. Kisah mengenai identitas dan perjalanan hidup Miero menjadi bagian menarik dari sejarah komunitas Yahudi di Batavia.

Dalam perjalanan waktu, kondisi ekonominya berubah drastis. Ia kemudian dikenal sebagai pedagang dan pengusaha yang berhasil membangun kekayaan di Batavia.

Pada 1800, Miero memperoleh Landhuis Pondok Gede beserta tanah luas di sekitarnya. Bangunan yang sebelumnya menggunakan struktur kayu kemudian mengalami perubahan dan renovasi sehingga tampil lebih kokoh dengan karakter arsitektur Indies.

Luas tanah yang berkaitan dengan kawasan tersebut juga sangat besar. Survei arkeologi pada Januari 1988 mencatat kawasan sekitar landhuis mencapai sekitar 325 hektare. Lahan tersebut sebelumnya digunakan antara lain sebagai perkebunan sereh, kemudian mengalami perubahan fungsi dan kepemilikan dari waktu ke waktu.

Ada Makam di Kawasan Landhuis

Miero tinggal di Landhuis Pondok Gede hingga meninggal pada 10 Mei 1834. Ia kemudian dimakamkan di area sekitar kediamannya.

Di sinilah kisah Landhuis Pondok Gede menjadi semakin menarik.

Ketika bangunan dan kawasan tersebut mengalami berbagai perubahan pada abad berikutnya, makam Miero juga tidak bertahan. Berbagai tulisan mengenai sejarah Pondok Gede menyebut makam tersebut kemudian dibongkar dan nisannya tidak lagi ditemukan.

Namun, bagian ini perlu dibaca dengan hati-hati. Tidak semua detail mengenai kapan makam dibongkar, siapa yang membongkarnya, dan bagaimana tepatnya nisan tersebut hilang memiliki dokumentasi sejarah yang sama kuat. Karena itu, lebih tepat menyebutnya sebagai bagian dari riwayat yang berkembang dalam sumber sejarah populer, bukan sebagai misteri yang seluruh jawabannya sudah diketahui.

Dari Perkebunan hingga Plaza Pondok Gede

Setelah masa Miero, kepemilikan dan fungsi kawasan tersebut kembali berubah. Lahan yang sebelumnya berkaitan dengan perkebunan kemudian berpindah tangan kepada sejumlah pihak.

Menjelang akhir abad ke-20, perhatian terhadap keberadaan bangunan tua ini sempat muncul kembali.

Pada 1988, dilakukan survei arkeologi terhadap kawasan Landhuis Pondok Gede. Artinya, ketika Jakarta dan wilayah sekitarnya sedang berkembang pesat, masih ada upaya untuk mendokumentasikan peninggalan sejarah tersebut.

Tetapi bangunan itu akhirnya tidak bertahan.

Pada 1992, Landhuis Pondok Gede dibongkar. Lahannya kemudian dikembangkan menjadi pusat pertokoan modern yang sekarang dikenal sebagai Plaza Pondok Gede.

Sejarah yang Hilang, Nama yang Bertahan

Ada sesuatu yang menarik dari kisah ini.

Bangunannya sudah tidak ada.

Lanskap perkebunannya sudah berubah.

Makam yang pernah berada di kawasan tersebut juga tidak lagi terlihat.

Tetapi nama Pondok Gede tetap hidup dan digunakan setiap hari oleh ribuan orang.

Inilah salah satu hal yang membuat sejarah kota menarik. Sebuah tempat tidak selalu meninggalkan bangunan atau artefak yang bisa kita lihat. Kadang yang bertahan hanya sebuah nama.

Ketika seseorang hari ini berkata, “ketemu di Pondok Gede,” mungkin tidak banyak yang membayangkan bahwa nama tersebut berkaitan dengan sebuah rumah besar dari abad ke-18.

Di atas kawasan yang kini dipenuhi bangunan modern, dahulu pernah berdiri sebuah landhuis yang menjadi penanda penting wilayah tersebut.

Dan mungkin, justru karena bangunannya sudah hilang, cerita tentangnya menjadi semakin layak untuk diingat.

Daftar pustaka

De Vrijdagavond: Joodsch Weekblad. (1932, 29 Juli). De Vrijdagavond: Joodsch Weekblad (Jaargang 9). Delpher, Koninklijke Bibliotheek. https://www.delpher.nl/

Good News From Indonesia. (2022, 26 Juni). Memori Landhuis Pondok Gede, rumah mewah yang kini telah lenyap. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/06/26/memori-landhuis-pondok-gede-rumah-mewah-yang-kini-telah-lenyap

Heuken, A. (n.d.). Tempat-tempat bersejarah di Jakarta. Cipta Loka Caraka.

JatimTimes. (2024, 1 Desember). Landhuis Pondok Gedeh: Jejak sejarah yang terkubur beton. https://jatimtimes.com/baca/326533/20241201/111600/landhuis-pondok-gedeh-jejak-sejarah-yang-terkubur-beton

Juru Kunci 2000. (n.d.). Landhuis Pondok Gede [Pinterest board]. Pinterest. https://www.pinterest.com/jurukunci2000/

SejarahJakarta.com. (2019, 9 Mei). Mengenang Landhuis Pondok Gede. https://sejarahjakarta.com/2019/05/09/mengenang-landhuis-pondok-gede/

SINDOnews. (2022, 12 Februari). Asal-usul nama Pondok Gede yang diambil dari rumah besar milik pendeta Belanda. https://daerah.sindonews.com/read/683675/173/asal-usul-nama-pondok-gede-yang-diambil-dari-rumah-besar-milik-pendeta-belanda-1644591748

Van Imhoff, G. B. (1746, 1 Februari). Resolusi Gubernur Jenderal Gustaaf Baron van Imhoff [Dokumen arsip kolonial].

Wikipedia contributors. (2026). Museum Rumah Pondokgede. Wikipedia Bahasa Indonesia. https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Rumah_Pondokgede

Tinggalkan Balasan